Sunda memang banyak cerita keluarga, Kabayan Iteung dan Abah
misalnya, suatu hari Abah pergi ke sawah, sesampainya di sawah Abah
kaget campur bahagia melihat menantunya Kabayan sudah lebih dulu ada di
sawah, Abah pun menyapanya dengan pelan menanyakan "Kabayan keur naon?"
dia menjawab " keur nguseup Tutu Bah " Kabayan lagi mancing Siput sawah,
abah heran Siput kan mustahil bisa dipancing, lalu penasaran Nanyang
lagi "Kunaon di useupan?" jawabnya " Sieun atuda jero sawahna katingali
langitna oge" Kabayan berfikir dan merasakan sawah itu dalam sekali
sehingga langit pun kelihatan sehingga Kabayan takut untuk turun ke
tengah sawah, mendengar jawaban seperti itu Abah jengkel sekali di
dorongnya sehingga Kabayan jatuh ke tengah sawah, kemudian dia ngomong
"el da deet ketang" Kabayan kaget tapi senyum senyum ternyata sawah itu
dangkal, kemudian Kabayan memungut siput siput itu.
Cerita sunda ini mengandung filosufi cukup mendasar bagi kita semua
terutama dalam kehidupan sehari hari, semisal kita yang bukan hanya tau
baik dan buruk bahkan ingin melakukan yang baik menanggalkan yang buruk,
tapi kenapa kita tak pernah bisa melakukannya.Kabayan tau Siput itu enak kandungan gizinya tinggi, dia pun ingin mendapatkan siput siput itu untuk di makan tapi, Kabayan tidak bisa mendapatkannya karena dia ter halang oleh pikiran dan perasaannya, justru ketika di dorong mertua dipaksa untuk turun, ternyaman sawah itu tidak seperti yang dalam pikiran dan perasaannya malahan dia dengan mudah mendapatkan siput siput itu karena tidak lagi di pancing.
Alloh menjamin " Haq itu dari Tuhan kamu, jangan lah kamu menjadi orang orang yang ragu " maka ketika kita melakukan Haq dan kebenaran janganlah ragu untuk melaksanakan, mengeluarkan sodaqoh jangan berpikir untung dan rugi, puasa jangan memikirkan haus dan lapar, sholat jangan mengulurulurkannya, intinya pertimbangan pikiran dan perasaan yang menunda nunda melaksanakan perintah Alloh jangan di ladeni.
Istiqomah lah dalam melaksanakan perintah Alloh.
dicopi dari ; http://www.miftahul-huda.com
