Wujud, artinya
ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu
mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada
karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini.
Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima 'aqal
jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.
Jikalau alam
ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau
berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang
kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka
menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada.
Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:
Allahu kholiqu
kullu syai’in
artinya, Allah
Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.
Adapun Wujud
itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah
itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada
ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna
Adapun Hakikat
sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru
mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu
tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh
sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya
sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.
Adapun Wujud
itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya
dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat
seperti sifat yang lain-lain.
Adapun Wujud
itu tiga bahagi:
Wujud Haqiqi,
yaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan
maka wujud itu bersifat Qadimdan Baqa’, inilah wujud sebenarnya
Wujud Mujazi,
yaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan
tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi
karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala
Wujud ‘Ardy,
yaitu dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan
seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain
Adapun yang
Mawujud selain Allah Ta’ala dua bahagi
Mawujud dalam
‘alam sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit,
bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain
Mawujud didalam
‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan
nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti
Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.
Adapun segala
yang Mawujud itu lima bahagi:
Mawujud pada
Zihin yaitu ada pada ‘aqal
Mawujud pada
Kharij yaitu ada kenyataan bekas
Mawujud pada
Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi
Mawujud pada
Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api
Mawujud pada
Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia
Ma’rifat kepada Allah Ta’ala
Membicarakan
Wujud-Nya dengan jalan dalil:
Dalil yang
didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan
Dalil yang
didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan
Dalil yang
didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan
Dalil yang
didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan
Dalil yang
didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Bahagian II:
Sifat Salbiyah
Adapun hakikat
sifat Salbiyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza
wajalla, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada
patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu
lima sifat:
QIDAM, artinya
Sedia
BAQA’ artinya
Kekal,
MUKHALAFATUHULILKHAWADITS
artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.
QIYAMUHU
BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.
WAHDANIAH,
artinya Esa
1. QIDAM, artinya Sedia
Adapun hakikat
Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan,
lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal
sekali-kali dikatakan Ia baharu karena jikalau Ia baharu niscaya jadilah
Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah
terdahulu wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya
bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam
Al Qur’an: huwal awwalu, artinya Ia juga yang awal.
Adapun Qadim
nisbah pada nama empat perkara:
a. Qadim Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala
b. Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala
c. Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar
seperti dahulu bapa daripada anak
d. Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu
sekurang-kurangnnya setahun
2. BAQA’ artinya Kekal
Adapun hakikat
Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan,
lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal
sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud
yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah
terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib
bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya
dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal dzat
Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.
Adapun yang
Kekal itu dua bahagi:
a. Kekal Haqiqi, yaitu dzat dan sifat Allah
Ta’ala
b. Kekal Ardy, yaitu kekal yang dikekalkan,
menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebahagian
daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu
dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga,
neraka, bidadari dan telaga nabi.
3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITSI artinya
Bersalahan Allah Ta'ala dengan segala yang baharu
Adapun Hakikat
Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af'al
Allah Ta'ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan
segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan
segala sesuatu yang baharu. Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta'ala itu
bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af'al-Nya dengan segala yang baharu, karena
jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat Qadim dan
Baqa', sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang telah
terdahulu wajib bagi Allah Ta'ala bersifat Qadim dan Baqa', maka menerimalah
aqal kita wajib bagi Allah Ta'ala bersifat mukhalafatuhulilhawadits, dan
mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al
Qur'an:
laisa kamislihi
syaiin wa huwassami'ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta'ala dengan
segala sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.
Adapun
bersalahan dzat Allah Ta'ala dengan dzat yang baharu karena dzat Allah Ta'ala
bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau 'aradh dan tiada dijadikan, tiada
bertempat, tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak
atau diperanakkan.
Bersalahan
sifat Allah Ta'ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta'ala Qadim dan
'Aum takluknya, seperti Sami' Allah Ta'ala takluk pada segala yang mawujud.
Adapun sifat
yang baharu itu tiada ia Qadim dan tiada 'Aum takluknya, tetapi takluk pada
setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan
bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh
atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat
yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta'ala.
Adapun
bersalahan perbuatan Allah Ta'ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan
Allah Ta'ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan
minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.
Adapun
perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan
minta tolong dan mengambil faedah.
4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah
Ta’ala dengan sendirinya
Adapun hakikat
Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat
berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak
kepada tempat berdiri dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.
Mustahil tiada
diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya,
karena Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat
berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.
Dan tiada
berkehendak kepada yang menjadikan Ia karena Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia
kepada yang menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah
ia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits.
Maka sekarang
menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat
Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun
dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin,
artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.
Adapun segala
yang Mawujud menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada
yang menjadikan dia itu empat bahagi:
a. Tiada berkehendak kepada yang menjadikan
Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu zat Allah Ta’ala
b. Berdiri pada zat Allah Ta’ala dan tiada
berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yaitu sifat Allah Ta’ala
c. Tiada berkehendak kepada tempat berdiri
dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu
d. Berkehendak kepada tempat berdiri dan
berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘aradh yang baharu
5. WAHDANIAH, artinya Esa
Adapun hakikat
Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil (berbilang-bilang atau
bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kammumfasil (bercerai-cerai banyak
yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.
Lawannya
An-yakunu wahidan, artinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal
sekali-kali dikatakan tiada Ia Esa, karena jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada
alam ini karena banyak yang memberi bekas.
Seperti
dikatakan ada dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari
barat, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang
satu lagi keluarkan dari utara atau selatan, karena tiga yang memberi bekas.
Tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya
umpamanya disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan
mengadakan lagi menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau
selatan, karena tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka
kesudahannya matahari itu tiada keluar.
Maka sekarang
kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan
didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita
wajib diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya
berbilang-bilang atau bercerai-cerai.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu
(Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.
Adapun Wahdaniah
pada zat menafikan dua perkara:
a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan
berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan zat Allah Ta’ala itu
berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau dikatakan zat Allah Ta’ala itu
kejadian daripada anasir yang empat.
b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan
bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa, umpama dikatakan ada zat yang
lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian
itu.
Maka
Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah
Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan
Ahadiyyatuzzat, yakni Esa dzat Allah Ta’ala.
Adapun
Wahdaniah pada sifat menafikan dua perkara:
a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan
berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat, seperti dikatakan ada pada Allah
Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti
yang demikian itu.
b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan
bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat
yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala.
Maka
Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah
Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan
Ahadiyyatussifat, yakni Esa sifat Allah Ta’ala.
Adapun
Wahdaniah pada af’al menafikan dua perkara:
a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan
berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan, seperti dikatakan Allah
Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan
dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan yakni tiada
sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan
bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas, seperti dikatakan ada
perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada
sekali-kali seperti yang demikian itu.
Maka
Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah
Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan
Ahadiyyatull af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Bahagian III: Sifat Ma’ani
Adapun hakikat
sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat
lahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud
(wajibalwujud / zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (yaitu
Ma’nawiyah)
Sifat Ma’ani
ini maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:
QUDRAT artinya
Kuasa, Takluk pada segala mumkinun
IRADAT artinya
Menentukan, takluk pada segala mumkinun
ILMU artinya Mengetahui, takluk pada segala
yang wajib, mustahil dan ja'iz bagi aqal.
HAYAT artinya
Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat
yang lain.
SAMA’ artinya
Mendengar, takluk pada segala yang maujud.
BASYAR artinya
Melihat, takluk pada segala yang maujud.
KALAM artinya Berkata-kata
1. Qudrat artinya Kuasa
Adapun hakikat
Qudrat itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat
Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin
muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya
atau tiadanya
Adapun mumkin
itu empat bahagi:
a. Mumkin Maujuud ba’dal ‘adum, yaitu mumkin
yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti: langit, bumi dan kita semuanya.
b. Mumkin Ma’dum ba’dal wujud, yaitu mumkin
yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti: nabi Adam as, dan
datok-datok nenek kita yang sudah tiada.
c. Mumkin sayuzad, yaitu mumkin yang akan
datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.
d. Mumkin Ilmu Allah annahu lamyujad, yaitu
mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada dijadikan seperti hujan
emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain lagi.
Lawannya
‘Ujdzun artinya lemah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
dikatakan Allah Ta’ala itu lemah, karena jikalau Ia lemah niscaya tiadalah ada
alam ini karena yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan. Maka
sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini,
maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan
mustahil lawannya ‘Ujdzun.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, artinya Allah
Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Tetaplah dalam
Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu
untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat
dan pada af’al Allah Ta’ala.
Qudrat Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.
Qudrat Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.
Qudrat Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal.
Qudrat Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
Qudrat Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
2. Iradat artinya Menentukan
Adapun hakikat
Iradat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya,muafakat
dengan Ilmu-Nya.
Adapun Iradat
Allah Ta’ala menentukan enam perkara:
a. Menentukan mumkin itu Ada atau tiadanya
b. Menentukan Tempat mumkin itu
c. Menentukan Jihat mumkin itu
d. Menentukan Sifat mumkin itu
e. Menentukan Qadar mumkin itu
f. Menentukan Masa mumkin itu
Lawannya
Karahat artinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, yaitu mustahil tiada
diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau
tiada berkehendak, karena jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak
mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini niscaya tiadalah baharu (Berubah)
alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada
malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan
mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala
bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, artinya berbuat Allah
Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.
Adapun Iradat
dengan amar dan nahi itu tiada berlazim karena:
Ada kalanya
disuruh tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala
pengikutnya.
Ada kalanya
disuruh dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain.
Ada kalanya
tiada disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak.
Adakalanya
tiada disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh
seperti Nabi Adam as dan Hawa.
Tetaplah dalam
Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu
untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat
dan pada af’al Allah Ta’ala.
Iradat Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat.
Iradat Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.
Iradat Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal.
Iradat Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
Iradat Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
3. Ilmu artinya Mengetahui
Adapun hakikat
Ilmu itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat
Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil,
dan pada yang harus.
Adapun yang
wajib itu zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang
Kamalat.
Adapun yang
mustahil itu yaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya
maka mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan
pada-Nya.
Adapun yang
harus itu sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada
masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan
diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun,
semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim
Lawannya Jahil,
artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia
Jahil atau bodoh karena jikalau ia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur
atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah
teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah
Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah
Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu.
Tetaplah dalam
Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
Ilmu Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.
Ilmu Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.
Ilmu Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
Ilmu Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu.
Ilmu Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
4. Hayat artinya Hidup
Adapun hakikat
Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala, maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.
Lawannya maut
artinya mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia
mati karena jikalau Ia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti
Qudrat, Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala
bersifat hayat dan mustahil lawannya maut.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, artinya Dia yang
Hidup yang tiada mati.
Tetaplah dalam
Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
Hayat Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.
Hayat Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.
Hayat Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal.
Hayat Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu.
Hayat Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)
5. Sami’ artinya Mendengar
Adapun hakikat
Sami’ itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat
Allah Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang
mawujud itu Qadim atau Muhadas.
Adapun mawujud
yang Qadim yaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang
tiada berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas yaitu sekalian alam ini maka
mendengar Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala
perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada
terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.
Lawannya Sumum,
artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
dikatakan Ia pekak atau tuli karena jikalau Ia pekak atau tuli niscaya tiadalah
dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian
makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib
lakum, artinya mintalah olehmu kepadaKu niscaya Aku perkenankan.
Maka
menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil
lawannya Sumum, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:
wallahu sami’un ‘alimun, artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang
mengetahui .
Tetaplah dalam
Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
Sami’ Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.
Sami’ Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.
Sami’ Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
Sami’ Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu.
Sami’ Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
6. Bashir artinya Melihat
Adapun hakikat
Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala, maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu
Qadim atau muhadas.
Adapun mawujud
yang Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada
berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.
Adapun mawujud
yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada
pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang
lagi akan diadakan.
Tiada
terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau
sangat kelamnya.
Lawannya
‘Umyun, artinya buta, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
dikatakan Ia buta karena jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka
menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Taa'la itu bersifat Bashir dan mustahil
lawannya ‘Umyun atau buta
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, artinya Allah
Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.
Tetaplah dalam
Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu
untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat
dan pada af’al Allah Ta’ala
Bashir Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.
Bashir Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.
Bashir Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
Bashir Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu.
Bashir Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
7. Kalam artinya Berkata-kata
Adapun hakikat
Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam
annahu laailahaillalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada tuhan
melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana
fiyhima alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain
selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang
harus dengan firman-Nya: wallahu holaqokum wamaa ta’maluun, artinya Allah
Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.
Lawannya
Bukmum, artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal
sekali-kali dikatakan Ia bisu atau kelu karena jikalau Ia bisu atau Kelu
tiadalah dapat Ia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara
seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan
cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat
ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam
dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya friman-Nya dalam
Al Qur’an: wa kallamallaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala
dengan nabi Musa as dengan sempurna kata.
Adapun Kalam
Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi
dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada
suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain,
jika Ia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti
cegah berjudi., minum arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita
dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia
menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang
beriman dan ta’at dan lian-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan
maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang
berbuat maksiat dan kafir.
Tetaplah dalam
Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
Kalam Allah
Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.
Kalam Allah
Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.
Kalam Allah
Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha
suci dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.
Kalam Allah
Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta
tolong pada sesuatu.
Kalam Allah
Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan
tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Bahagian IV: Sifat Ma’nawiyah
Adapun hakikat
sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati
mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu
dikarenakan suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat
maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani,
Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat
Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:
QADIRUN,
artinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat
MURIIDUN,
artinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat
‘ALIMUN,
artinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat
HAYYUN, artinya
Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat
SAMI’UN,
artinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat
BASIRUN,
artinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat
MUTTAKALLIMUN,
artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Bahagian V:
Sifat Istighna
Artinya sifat
Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya
Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.
Apabila
dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya
bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas
(11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada
tiap-tiap yang lainnya.
Adapun sifat
wajib yang 11 itu ialah:
Wujud, Qidam,
Baqa’, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Kiyamuhubinafsihi, Sami’, Basir, Kalam,
Sami’un, Basirun dan Muttakalimun.
Selain sebelas
(11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk
pada sifat Istighna yaitu
Mahasuci dari
pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya
mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena
jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya
karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya
Tiada wajib Ia
menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal
sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya
daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada
yang menyempurnakan-Nya
Tiada memberi
bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu
mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu
daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya
karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Bahagian VI: Sifat Ifthikhor
Artinya sifat
berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu,
artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.
Apabila
dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya
bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan
(9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,
Adapun sifat
wajib yang sembilan (9) itu adalah:
Qudrat
Iradat
Ilmu
Hayat
Qodirun
Muridun
‘Alimun
Hayyun
Wahdaniah
Selain dari
sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada
sifat Ifthikhor:
Baharu sekalian
alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya
kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya
Tiada memberi
bekas sesuatu daripada kainatnya dengan tobi’at atau dzatnya. Lawannya memberi
bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau
memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah
berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya
sesuatu daripadaNya.
Maka sekarang
telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh
dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) 'akaid yang
terkandung didalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa
ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang
kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu,
artinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.
Ini makna yang
pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):
Wajibal wujud,
yaitu yang wajib adanya.
Ishiqoqul
ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah
Kholikul 'alam,
yaitu yang menjadikan sekalian alam
Maghbudun
bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.
Ini makna yang
kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:
Laa ilaha
ilallaah, Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan
sebenarnya melainkan Allah.
Ini makna yang
ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi
dan isbat
Adapun yang
dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan
mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu
berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah
Laa = nafi,
Ilaha = menafi, ila = isbat, Allah = meng-isbat
Yang kedua
kalimah laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi
sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa
fahuwa kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa
menceraikan kafir.
Seperti asap
dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap
asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi
mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
SIFAT-SIFAT
KERASULAN
Adapun sifat
yang wajib bagi rasul itu empat (4) perkara dan yang mustahil padanya empat (4)
sifat pula dan yang harus padanya satu (1) sahaja:
Siddiq, artinya
Benar, lawannya Qizib, artinya Dusta yaitu mustahil
Amanah, artinya
Kepercaan, lawannya Hianat, artinya Tiada Kepercayaan yaitu mustahil
Tabligh,
artinya Menyampaikan, lawannya Qitman, artinya Menyembunyikan yaitu mustahil
Fathonah,
artinya Cerdik Bijaksana, lawannya Biladah, artinya Jahil yaitu mustahil
Adapun yang
harus padanya satu (1) sahaja, yaitu: 'Iradul basariyyah, artinya Berperangai
dengan perangai manusia yang tiada membawa kekurangan seperti makan, minum
beranak, beristri dan sebagainya, lawannya tiada 'Iradul basariyyah, yaitu
Tiada Berperangai dengan perangai manusia yaitu mustahil tiada diterima oleh
aqal sekali-kali karena kita telah mendengar banyak sekali sejarah atau riwayat
nabi semasa hidupnya, istimewa pula orang yang sudah berjumpa dengannya seperti
segala sahabatnya seperti Abu Bakar dan sahabat yang lain dan begitu juga
segala musuhnya seperti Abu jahal dan Abu lahab
dan ditambah
lagi dengan empat (4) perkara pada rukun iman dan lawannya.
Maka jadilah
delapan belas (18) Aqa’id yang terkandung didalam kalimah
MuhammadurRasuulullaah
Percaya akan
Malaikatnya, lawannya Tiada percaya
Percaya akan
Kitab, lawannya Tiada percaya
Percaya akan
segala Rasul, lawannya Tiada percaya
Percaya akan
Hari Kiamat, lawannya Tiada percaya
Empat (4) sifat
yang wajib bagi rasul dan empat (4) sifat pula yang mustahil padanya dan satu
(1) sifat yang harus padanya, lawannya satu (1) pula, ditambah dengan empat (4)
pada Rukun Iman dan lawannya empat (4) pula maka dijumlahkan semuanya jadilah
delapan belas (18) Aqa’id yang terkandung didalam Sahadat Rasul, maka baharulah
jadi Aqa’idul Iman enam puluh delapan (68) yang terkandung didalam Dua Kalimah
Syahadat :
Ashadu anllaa
ilaha ilallah Wa Ashadu ana muhaammadarrasullullaah
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~